No one hear me.
No One Adore me.
I’m alone.
Sebuah kalimat yang selalu menghampiri dan membayangi hidupku. Tak hanya sebuah kalimat dari sebuah perasaan, namun kalimat ini memiliki sebuah makna yang selalu dijalani. Pernah saya mendengar sebuah kalimat yang tentunya sudah tidak asing ditelinga. Manusia adalah makhluk sosial. Manusia membutuhkan orang lain dalam kehidupan.
Sama halnya dengan saya. Saya membutuhkan orang lain bukanlah sekedar perihal keinginan atau kebutuhan pribadi. Melainkan saya butuh orang lain untuk membangun diri, serta meningkatkan gairah serta motivasi. Hidup butuh gairah. Kenapa? Kata gairah tentu tak jauh dari semangat. Contoh abstrak ialah apabila kita bergairah dalam menghadapi sebuah masalah, tentu kita bersemangat untuk menyelesaikan masalah.
Berbicara mengenai motivasi, tentu kita berbicara mengenai sebuah keinginan dan sebuah impian. Impian terkadang bersifat abstrak. Impian terkadang masih didalam pikiran kita, namun belum terealisasikan dalam bentuk konkrit. Sebuah impian tentulah sebuah harapan. Sebuah harapan dan impian yang kita inginkan tentu saja tidak mudah diraih bila dilakukan tanpa usaha dan hanya bermodalkan doa dan pasrah. Ingat impian yang kita capai tentu kita harus gapai dengan usaha, tindakan, semangat, kerjakeras, keyakinan, niat dan doa.
Hal itu yang masih berbayang dihidup saya. Saya tentu bingung apa sebenarnya impian saya kedepannya. Bila dikatakan saya labil, tentu saya labil. Saya bingung bagaimana masa depan saya. Masa depan yang saya impikan dan inginkan selalu terhalang oleh hambatan. Hambatan yang dihadapi bukanlah hambatan sepele dan mudah untuk dihempaskan. Hambatan lewat orangtua membuat saya bingung untuk mengembangkan diri.
Percekcokan seringkali dihadapi. Seiring berjalannya waktu cacian serta makian yang diutarakan orangtua terkadang membuat saya jenuh. Tidak menginginkan anaknya bergerak dengan bebas dalam menentukan masa depannya dan mengambil sebuah perhatian kepada anak dalam bentuk yang tentu membuat anak bingung dan tertekan.
Tak hanya orangtua, teman tentu akan membuat saya begitu meringis akan hubungan pertemanan. Apakah saya salah bila saya bertingkah laku sesuai yang saya inginkan? Apabila salah, dapatkan memberi solusi? Saya bingung! Saya sudah seperti ini. Kenapa kawan-kawan mengomentari perilaku saya dengan komentar yang negatif. Kawan-kawan tak hanya mencela, juga menekan serta menusuk relung hati sehingga membuat luka dan meninggalkan duka. Tidak ada yang akan mendengarkan apa yang saya ucapkan. Semua memandang sebelah mata.
NO ONE HEAR ME! Semua kawan tak ada yang sayang dengan ketulusan dan keikhlasan. Mereka hanya memberikan rasa sayang bila mereka ingin meminta balasan akan sebuah motif dan keinginan pribadi dari pengutaraan rasa sayang. Sebuah hanya BULLSHIT!! NO ONE ADORE ME!!.
Aku sendiri, berjalan sendiri, dengan tujuan sendiri, berharap ada orang yang peduli dan sayang, sehingga menemukan sebuah kasih dan cinta tanpa menganggap status sosial dan hubungan. Pada akhirnya menghempaskan sebuah kalimat
“I’M ALONE”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar