Berbicara pada realita yang ada, saya seringkali melihat di televisi para pemain musik bisa menjadi terkenal dan memiliki nama di Indonesia bahkan di dunia. Saya melihat dan kemudian bertanya pada awalnya, mengapa orang bisa menjadi atlit bulutangkis, pemain sepakbola dan hal-hal lainnya. Mungkin mereka dilatih dan kemudian bisa menjadi handal hingga saat ini. Tapi apakah orang tersebut pada awalnya mau dilatih untuk bermain bulutangkis atau bermain sepakbola? Apakah orang itu memang berkeinginan untuk bermain bulutangkis atau bermain hal-hal lainya? Apakah mereka memiliki cita-cita pada awalnya hingga akhirnya mereka mencapai cita-cita mereka menjadi atlit terkenal, menjadi pemain musik dan profesi lainnya.
Apabila ada pertanyaan tentu ada jawabannya. Saya melihat dari pengalaman mereka-mereka yang sudah berhasil menjadi atlit, pemain musik dan lainnya. Mereka awalnya tidak memiliki cita-cita pada masa kecilnya. Mungkin cita-cita yang diucapkan ya seringkali, cita-cita ingin menjadi dokter, ingin menjadi penyanyi, ingin menjadi artis hingga ingin menjadi presiden. Namun cita-cita yang mereka lontarkan pada awalnya kerapkali berbeda dan keberhasilan pada nantinya. Mungkin ada yang bisa mencapai cita-cita tersebut, namun dari kisah kehidupan yang pernah saya ketahui bahwa seringkali orang ingin bercita-cita pada masa kecilnya ingin menjadi dokter pada akhirnya dewasanya mereka tidak menjadi dokter. Ada cerita mengenai kisah hidup seorang musisi terkenal yang merupakan anak dari Adi Ms, yaitu Kevin Aprilio. Saya pernah mendengar kisahnya bahwa pada masa kecilnya ia mungkin bisa dikatakan tidak tertarik bermain piano. Namun ayahnya melatih anaknya agar bisa menjadi seperti ayahnya dengan situasi anaknya tidak tertarik dan bisa dibilang tidak suka. Ayahnya sadar bahwa anaknya memiliki potensi dikemudian hari. Ayahnya ingin sekali anaknya mengikuti jejak dirinya karena ia tahu bahwa anaknya memiliki potensi dalam bidang yang ditekuninya. Dilatih dan terus dilatih, pada akhirnya anaknya bisa menjadi musisi handal seperti yang kita bisa lihat sekarang ini.
Tidak hanya kisah Kevin, kisah hidup seorang Ikmal yang merupakan Alexandra yang merupakan putri dari pembalap terkenal _____ membuat saya terkagum. Pada awalnya ayahnya ingin ada anaknya ingin mengikuti jejak dia. Ayahnya coba mengajarkan anaknya satu demi satu memainkan mobil bombomcar. Disaat kedua putranya memainkan permainan tersebut, ayahnya melihat bahwa kedua putranya tidak memiliki potensi untuk mengikuti jejak ayahnya. Ternyata setelah melihat anak putrinya malakukan permainan tersebut, ayahnya melihat putrinya memiliki potensi dalam bidang tersebut. Pada akhirnya, kini anaknya menjadi seperti ayahnya menjadi pembalap handal di Indonesia.
Potensi, potensi dan potensi. Itulah kalimat yang saya ucapkan ketika saya memikirkannya. Anak pada masa kecilnya memiliki potensi yang terpendam. Potensi yang terpendam bukan berarti tidak bisa dimunculkan dipermukan, melainkan potensi tersebut muncul dengan sendirinya ke permukaan dengan kondisi yang tidak disadari. Contohnya potensi yang muncul dengan sendirinya ke permukaan pernah saya alami. Pada saat usia ±3 tahun, ayah saya suka mengidupkan tape dan kemudian menyetel lagu Ebiet G. Ade. Saya yang awalnya tidak suka, setelah ayah saya yang seringkali menghidupkan lagu saya membuat saya ikut bernyanyi. Tidak hanya itu saja. Ibu saya pernah menghidupkan lagu Batak yang saya tidak mengerti bahasanya. Saya lihat ternyata ibu saya menyetel lagu Batak dan ternyata terdapat liriknya, seperti halnya lagu yang disetel di tempat karaoke. Saya melihat dan kemudian bernyanyi sesuai liriknya.
Kedua orangtua saya sudah tahu saya memiliki potensi yang terpendam. Mereka mengetahui bahwa saya memiliki potensi ketika saya menginjakkan kaki di kelas 1 SD, saya mendapatkan peringkat 1 ketika ada lomba nyanyi dikelas. Orangtua saya senang namun mereka kurang merespon akan potensi yang saya miliki. Kedua orangtua saya lebih menginginkan anaknya berkembang dibidang akademis bukan dibidang lainnya. Pada usia ±7 tahun saya ditawari oleh Ibu saya untuk masuk les nyanyi. Saya menolak karena saya tidak tahu akan pentingnya les tersebut. Ibu saya yang awalnya mengajak saya dan kemudian melihat saya tidak tertarik untuk ikut les, membuat kedua orangtua saya tidak memasukkan saya les.
Potensi tidak hanya muncul dengan sendirinya ke permukaan. Potensi bisa muncul ke permukaan, apabila lingkungan terdekat kita memancing kita dan bisa saja memaksa kita untuk memunculkan potensi kita ke permukaan. Contohnya bisa dilihat dari kasus anak dari musisi Adi MS. Adi MS mencoba agar anaknya bisa menjadi sepertinya. Ia melatih anaknya terus menerus untuk mengembangkan potensi hingga potensi anaknya menjadi matang.
Saya mengetahui bahwa saya memiliki potensi yang beraneka ragam. Yang dimaksud beraneka ragam ialah potensi tidaklah hanya dalam 1 hal saja, banyak hal lain yang bisa dikatakan sebagai potensi. Sebagai contoh dari kehidupan saya adalah saya memang suka bernyanyi dan bermain alat musik dan pada akhirnya saya mencoba untuk mengembangkannya dan pada akhirnya saya sangat bersyukur saya dapat menciptakan sebuah karya yaitu sebuah lagu. Tidak hanya potensi dalam saya bermain musik dan bernyanyi saja, saya sadar memiliki potensi yang lain. Potensi lain itu adalah menulis. Saya suka untuk mengarang sebuah cerita walaupun hanya lewat imajinasi. Pernah ada saran dari teman saya mengatakan “Kamu kan suka buat cerita, kenapa kamu gak coba saja untuk menggunakan karangan kamu untuk dijadikan sebuah novel?” Pertanyaan tersebut kemudian saya renungkan kembali, apakah saya bisa seperti itu? Tidak ada salahnya untuk mencoba. Saya coba untuk membuat sebuah sekuel cerita dan kemudian dijadikan sebuah sinopsis. Hasilnya ternyata “BISA”. Meskipun mengalami keterhambatan, teman saya mau membantu saya bertukarpikiran mengenai kisah selanjutnya dari novel yang saya buat. Pada akhirnya saya mengerjakannya bersama-sama dengan teman saya dan kemudian saya menghasilkan sebuah karya.
Saya sadar bahwa apabila saya bisa dan ada keinginan untuk mengembangkan potensi saya, saya bisa menghasilkan sebuah karya dan mungkin saya bisa menjadi ahli dalam bidang/profesi sesuai dengan potensi yang saya miliki.
Lingkungan keluarga atau lebih khususnya orangtua memiliki peranan penting untuk mengembangkan potensi yang dimiliki anaknya. Seringkali saya melihat orangtua menilai potensi bukan menjadi hal yang harus dikembangkan, melainkan akademik yang harus dimaksimalkan. Potensi bisa menjadi jembatan awal untuk mencapai sebuah cita-cita. Bahkan terdapat orangtua yang tidak berkeinginan anaknya mengembangkansalah satu potensinya. Namun bila dilihat, potensi tidak hanya bergerak pada satu keahlian/sisi saja. Potensi yang dimiliki pada awalnya bermacam-macam, kini tinggal bagaimana caranya mengembangkan potensi tersebut baik dalam diri atau orang lain dan kemudian dari potensi tersebut kita mencapai sebuah tujuan sesuai dengan potensi yang kita miliki.
“Jika kamu sadar potensimu, kembangkan dan janganlah ditenggelamkan..”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar