Senin, 06 Juni 2011

CHAPTER 1 (PULANGLAH, NAK..)


BAB 1
LIBUR TELAH TIBA



                “Akhirnya gw bisa libur..”kata Tyo.
            “Benar juga Yo. Akhirnya kita bisa istirahat panjang..”balas Herdi.
            “Haha.. Benar juga. Enaknya ngapain ya liburan?”tanya Tio
            “Tidur yang banyak dan mari kita main games online..”balas Herdi.
            “Bisa, bisa, bisa.. Tapi enakan dirumah aja dulu dah, kalau sudah bosen dirumah, baru dah kewarnet , Her..”
            “Kerumah gw yuk..”kata Udin.
            “Kerumah lu? Kapan?”tanya Herdi.
            “Sekarang aja..”jawab Udin.
            “Wah gw enggak bisa kalau hari ini, kan kita mau main siang ini..”
            “Iya ya.. Lupa gw..”balas Udin.
            “Yaudah ntr bareng-bareng yo..”kata Tio.
            “Iya, Tio..”balas Herdi.

            Tio senang akhirnya ia bisa menikmati udara segar diluar sana dan tidak terganggu oleh tugas sekolah, tugas rumah dan ujian sekolah. Ia, Herdi dan Udin berencana untuk bermain warnet dikawasan Kemanggisan sepulang sekolah. Kami bertiga berencana main warnet hingga malam hari. Tak peduli orangtua mengoceh nantinya. Yang kami pikirkan adalah esok adalah hari libur dan saatnya puaskan main warnet hingga malam hari.
            Tio duduk dibangku SMA, dan sekarang ia kelas 1 SMA. Esok adalah hari libur sekolah semester awal. Tio adalah anak yang cerdas. Namun kecerdasannya terhalang oleh kemalasannya. Terkadang ia lebih suka bermain ketimbang belajar. Ia sangat menyukai sesuatu yang aneh dan dapat membuatnya tertarik. Hal yang aneh menurutnya termasuk bermain game. Semakin aneh sebuah game yang baru ia temui maka ia semakin tertarik untuk belajar memainkannya. Berbeda dengan pelajaran sekolah. Bila ia tidak tertarik pada satu pelajaran, maka selanjutnya ia tidak ingin untuk belajar pelajaran yang ia tak suka dan yang tak membuatnya tertarik.
            Sekarang Tio sedang tertarik dengan game online yang membuatnya selalu pulang malam. Sebelumnya ia sama sekali belum mengenal apa itu game online. Herdi mengenalkan game  online tersebut  kepada dia dan Udin. Awalnya Tio belum mengerti, namun ia merasa aneh dan merasa tertarik dengan game tersebut sehingga membuatnya sering mengunjungi warnet untuk bermain game online.
            Tio berbeda dengan siswa yang lain. Ia anak yang tidak bisa diam dan dapat digolongkan anak yang sangat aktif. Keaktifannya dalam bergerak dan bertingkah laku membuat temannya seringkali memberikan julukan kepadanya.
            Julukan yang diberikan temannya beraneka ragam. Ada yang memberikan julukan autis, bandot, kambing, buluk dan lain-lain. Meski julukan yang diberikan temannya rata-rata julukan yang buruk dan tidak enak didengar, namun Tio tetap sabar dan menanggapi dengan biasa. Tio tidak merasa seperti julukan yang ia dengar dan ia terima sehingga membuat Tio tidak marah.
            Tio anak yang sulit untuk marah. Apabila ia kesal dan marah, ia selalu memendam amarah karena menurutnya tak ada gunanya untuk mengeluarkan kekesalan karena takkan ada yang akan membantunya.

***

            Tio tiba dirumah jam 11 malam. Ia melihat dari luar rumah begitu sepi. Biasanya adiknya yang kedua suka menonton televisi hingga malam hari dan biasanya ada teriakan atau tangisan adikku yang ketiga dan kadang-kadang terdengar teriakkan ibuku dari depan rumah.
            Tio anak pertama dari tiga bersaudara. Dikeluarga ia anak yang sulit diatur, karena ia memiliki kebiasaan pulang malam. Diluar Tio sangat senang sekali bermain. Apabila Tio sudah bermain bersama teman-temannya, ia terkadang lupa waktu sehingga seringkali Tio pulang kerumah malam hari. Sering sekali dinasehati oleh Ayah, agar pulang cepat dan tidak membuat orangtua khawatir. Tapi Tio mengabaikan perkataan orangtua. Ia tak ingin diganggu kebebasannya. Ia merasa sudah dewasa, dan merasa dirinya tidak pantas untuk diatur-atur karena ia menganggap bahwa ia tidak perlu dijaga dan diatur, karena ia dapat melindungi dirinya sendiri.
            Ia berang apabila dimarahi oleh ibunya. Ibunya terkadang memarahinya bila ia pulang malam. Tak hanya dimarahi, ibunya terkadang mengancam Tio dengan ancaman uang jajannya akan dikurangi. Tak hanya dikurangi, ibunya mengancam Tio agar tidak usah balik kerumah bila pulangnya malam.
Tetap saja Tio tidak menggubris ancaman dari ibundanya. Tio terkadang menghindari amarah ibunya pada malam hari dengan cara ia pulang lebih malam agar ibundanya tidur dan tidak memarahinya.
            Dibuka gembok yang menempel di gagang pagar dan ternyata belum dikunci. Sebelumnya ia berpikir gemboknya pasti sudah dikunci. Ternyata setelah disentuh belum dikunci. Ia buka perlahan pagar rumah, dan kemudian ia buka perlahan pintu depan rumah. 
“Assalamualaikum..”kataku
Ternyata tak ada yang menjawab. Benar dugaan Tio kalau keluarganya sudah tertidur pulas sehingga tak sadar bila anaknya telah pulang. Tio bergegas untuk masuk kekamar. Berjalan perlahan dan kemudian membuka pintu kamar pelan-pelan agar tidak terdengar oleh kedua orangtua.
“Huft.. Capek juga ternyata..”ucapku dengan pelan.
“Untungnya udah tidur, kalau belum.. Pusing nih kepala dengar omelan..”ucapku kembali.
Karena tak ingin terus membuka mata, Tio memilih untuk mengistirahatkan diri.  Ia berharap semoga saja esok hari orangtuanya tidak memarahinya dan semoga saja tidurnya nyenyak untuk malam ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar