BAB II
Perkelahian
Bel istirahat berbunyi. Semua siswa terlihat berbondol-bondol menuju kantin untuk memesan makanan yang dijual. Dilihatnya teman-teman sekelas menertawainya.
Salah satu temannya, Michael langsung melihat Ridho yang duduk sendirian di kantin. Ia langsung membisikkan teman lainnya untuk mengerjainya. Temannya menolak, namun Michael tetap saja ingin mengerjainya.
“Woy, orang gila! Bisa makan lo” ledek Michael.
Ridho tidak mendengar ledekan Michael, sehingga ia tidak menggubris apa yang dikatakan Michael.
“Wooy.. Orang gila! Ga denger lo.. Hahaha” teriak Michael.
Teriakan Michael membuat seluruh kelas melihatnya. Ia langsung menghampiri Michael dengan penuh kekesalan.
“Maksud lo apa?” tanya Ridho.
“Maksud gw lo gilaa..”kata Michael sambil tertawa.
“Ini apa?”kata Ridho sambil menunjukkan kepalan tangannya.
“Tangan orang gila. Berani lo?” tanya Michael.
“BUUUKK”kepalan tangan Ridho melayang ke wajah Michael.
“Anjink lo. BUUKK”balas Michael memukulnya.
Pertengkaran terjadi. Semua siswa tidak ada yang berani untuk memisahkan. Kakak-kakak kelas yang tergolong anak gang sekolah melihatnya dan kemudian memberi sorakan seakan-akan menikmati pertengkaran itu.
Terlihat bibir Michael terluka akibat pukulan Ridho yang selalu tepat mengenai wajahnya.
Pertengkaran mereka terhenti. Terdapat beberapa guru datang ke kantin setelah mengetahui dari laporan murid akan adanya perkelahian.
“Hei.. Berhenti kalian”teriak Pak Kusno.
Kakak kelasnya dan juga temannya yang tadi hanya menonton, langsung melerai Ridho dan Michael. Emosi Ridho tak kunjung mereda walaupun Pak Kusno telah meneriaki Ridho agar dia dan Michael berhenti berkelahi.
“Dho.. Diam kamu! Ada Pak Kusno!” kata kakak kelasnya yang bernama Boy.
“Banyak omong kamu.. Biarkan aku menghabisi dia!” kata Ridho.
“Kalau kamu mau habisin dia, habisin diluar.. Jangan disini!”kata Boy.
“BODO!!”kata Ridho.
Terlihat Ridho dan Michael tak bisa menahan emosinya. Boy langsung menarik kerah baju Ridho dan langsung meneriakinya dan kemudian mendorongnya.
“WOY.. MAU JADI PREMAN LO! LIAT KANAN LO SIAPA!” kata Boy.
Ia palingkan wajahnya kekanan. Benar juga apa yang dikatakan Boy. Ridho langsung terdiam dan tak berbicara. Michael masih saja terlihat bernafsu ingin menghajar Ridho.
Pak Kusno datang. Tak hanya pak Kusno saja yang datang. Bu Yanti, Pak Sugeng, Pak Endang ikut datang menghampiri Ridho.
“Kalian berdua... Sekarang ke ruangan saya!”kata Pak Kusno yang merupakan wakil Kepala Sekolah.
“Kamu lagi yah, Dho.. Lebih baik kamu keluar dari sekolah ini.. Daripada selalu membuat masalah”kata bu Yanti.
Omongan bu Yanti ia balas dengan senyum kecil. Ia merasa bu Yanti sudah gila. Bahkan ia merasa bahwa bu Yanti lebih gila ketimbang dirinya.
Michael dan Ridho langsung bergegas keruangan Pak Kusno. Ridho diantar oleh Boy, yang memegangnya karena Boy menghindari apabila nantinya akan terjadi kembali perkelahian. Sedangkan Michael diantar oleh temannya.
Setiba di ruangan Kepala Sekolah.
“Kalian tuh mau jadi apa? Bertengkar di kantin. Saya bosan melihat wajah kamu, Dho! Tak hentinya kamu membuat masalah..”kata Pak Kusno.
“Pak bagaimana saya tidak kesal, saya diejek sama dia.. Saya dibilang gila..” kata Ridho.
“Kenapa harus memukul? Kamu mau jadi jagoan?”tanya Pak Kusno.
“Enggak, Pak.. saya sudah kesal ditambah kesal sama dia..”
“Emang dia begitu, Pak!” Saya hanya meledeknya sedikit karena saya mengikuti apa yang dikatakan bu Yanti yang menyebut Ridho orang gila..”
“Sedikit darimana? Mau aku pukul lagi?”kata Ridho.
“Sini..”tantang Michael.
“SUDAH! Brukk” bentak Pak Kusno sambil memukul meja.
“Saya enggak mau mendengar alasan kalian. Yang jelas kalian membuat citra sekolah ini menjadi buruk. Kalian tidak melihat orang lain diluar ikut menonton perkelahian? BODOH kalian”kata pak Kusno.
“Maaf, Pak..”kata Ridho.
“Saya juga, Pak..”kata Michael.
“Saya mau lihat kalian berdua berbaikan. Saya tak ingin melihat kembali perkelahian di sekolah ini”kata Pak Kusno.
“Iya, Pak...” kata Ridho dan Michael.
“Baiklah.. Silahkan kalian keluar. Kalian tunggu sanksi dari sekolah yang akan diberikan melalui Pak Sugeng..”kata Pak Kusno.
“Iya, Pak..”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar