BAB 1
Aku tidak “GILA”
“Ridho jangan lupa untuk membawa uang saku yang ibu taruh di meja makan ya..”kata Tantenya.
“Iya bu.. Aku gak lupa kok. Ibu dimana?”tanya Ridho.
“Didapur. Sudah kamu berangkat saja. Tangan lagi kotor..”
“Yaudah.. Assalamualaikum..”
Ridho memangil Tantenya dengan sebutan ibu. Ridho menganggap tantenya adalah ibu kandungnya. Ridho tidak mengetahui siapa orangtua kandung yang sebenarnya. Tantenya merahasiakan siapa orangtua kandung Ridho. Sehingga Ridho tidak curiga hingga saat ini.
Seketika di Sekolah
“Woy dho.. kamu udah ngerjain tugas belom?”tanya Tegar.
“Udah dong. Kenapa memangnya?”tanya Ridho.
“Aku lihat dong.. Saya lupa buat ngerjain.. Semalam aku ketiduran.”
“Makanya jangan pacaran melulu..”
“Biarin aja.. Yang penting nilaiku bagus kan..”
“Bagus sih bagus.. Tapi semenjak kamu pacaran, kamu jadi lupa belajar, Gar..”kata Ridho sambil menasehati Tegar.
“Yeee.. Kamu lihat nanti, Dho! Aku bakal ngalahin kamu..”tantang Tegar.
Tegar tak suka bila dinasehati Ridho. Ridho seperti orangtuanya yang suka menasehati. Berbeda dengan Ridho. Ridho terkadang suka menasehati orang lain, entah itu temannya, tantenya bahkan orang lain yang dikenalnya.
Lonceng sekolah telah berbunyi menandakan sekolah sudah masuk. Ridho bersiap-siap untuk mengeluarkan buku tulis dan buku pelajaran pada mata pelajaran pertama, yaitu Sejarah.
Bu Yanti, Guru Sejarah telah sampai dikelas. Murid-murid sekelas bersama-sama menyapa bu Yanti. Bu Yanti membalasnya tak seperti biasanya. Ia membalas sapaan kami, dengan tatapan penuh dengan emosi.
“Selamat Siang.. Apakah kalian membawa buku paket kalian?”tanya bu Yanti.
“Saya bawa bu..”kata Ridho yang duduk di paling depan.
“Saya enggak bu.. gimana dong” Kata Michael.
“Saya juga enggak..” kata Handal.
Kelas terlihat kisruh. Kekisruhan kelas terjadi karena mayoritas teman-teman sekelas tidak membawa buku paket. Buku paket merupakan sebutan lain dari buku pelajaran. Bu Yanti tidak memberikan toleransi terhadap siapa saja yang tidak membawa buku paket. Ia menghukum siswa-siswa yang tidak membawa dengan menyuruh mereka berdiri didepan. Ridho terlihat binggung dengan sikap Bu Yanti yang penuh dengan emosi yang membuat kelas terlihat tegang.
Hari ini Ridho dan kawan-kawan belajar materi Perang Dunia II. Ibu Yanti menjelaskan dengan lantang materi agar siswa mudah mengerti. Ibu menanyakan kepada siswa apa saja yang belum dimengerti. Ridho terlihat bingung. Kebingungan Ridho bukanlah mengenai materi itu, melainkan hal konyol yang sebenarnya sudah ia ketahui namun hal itu membuat suasana kelas tertawa.
“Bu, saya mau nanya?”
“Tanya apa?” balas Bu Yanti.
“Bu.. Emang dulu sudah ada kapal laut tempur ya? Terus sudah ada tank ya?” tanya Ridho.
“Sudah ada lah, Ridhoooo” kata Handal yang membuat seluruh kelas tertawa.
“Aneh! Makanya baca buku” balas Michael yang ikut tertawa dengan kerasnya.
“Diam!” teriak bu Yanti sambil memukul papan tulis dengan menggunakan penghapus whiteboard.
“Kamu memang enggak tau atau pura-pura enggak tahu, Hah?” tanya bu Yanti.
“Beneran enggak tahu bu. Yang saya tahu sejak jaman dahulu itu, sudah ada mobil, lampu sudah ada. Tapi saya enggak tahu kalau tank sama kapal perang laut sudah ada..” balas Ridho.
“Hahaha..” kembali kelas dibuat Ridho tertawa karena jawabannya.
“Diaaaam!!” Bu Yanti kembali memukul papan tulis dengan menggunakan penghapus.
“Yang lain memang sudah tahu? Kalian jangan hanya bisa tertawa!” kata ibu Yanti.
“Emang enak..”kata Ridho bersuara lirih.
“Sssutt.. Liat noh. Bu Yanti sudah marah-marah karena lo! Gila lo..” balas Tegar.
“Gw ga gila.. Emang bener kali...”
“Kalian ngobrol apa Ridho?” tanya Bu Yanti yang melihat perbincangan Ridho dan Tegar.
“Enggak apa-apa bu..” jawab Tegar.
“Lo diam aja, Dho..” kata Tegar.
“Iye..”
| a |
Bu Yanti melihat apa yang ditulis Ridho. Ridho tidak menyadari bu Yanti ada dibelakangnya. Ia terlihat keasikan menulis sesuatu yang seharusnya tidak ia tulis dikelas. Bu Yanti sudah heran dengan Ridho karena ia melihat dari awal Ridho tidak memperhatikannya. Ia kemudian mengambil buku kecil itu yang merupakan buku hariannya. Ia meminta bu Yanti untuk mengembalikannya. Ia tidak hanya takut akan tulisannya tadi dibaca oleh bu Yanti, ia tidak mau apa yang sudah dia jalani di kehidupannya dan kemudian ia tuturkan lewat sebuah tulisan kemudian diketahui oleh orang.
“Bu, kembalikan buku saya..”kata Ridho.
“Diam kamu.. Kamu nulis apa? Saya baca!” teriak bu Yanti.
“Bu.. Kembaliin bu.. Itu rahasia saya. Segala yang pernah saya jalani saya tulis disitu.. Bu! Itu privasi saya!!”
“Diam kamu! Apa maksud kamu. Kamu enggak mau mendengarkan saya saat mengajar? Murid macam apa kamu!”
“Bu.. Tolong kembalikan bu..” mohon Ridho dengan lemasnya.
“Tidak bisa. Saya akan bawa keruang guru..”
“Bu.. KEMBALIKAN!” teriak Ridho.
Teriakan Ridho yang begitu kencangnya membuat teman-temannya diam. Tak ada temannya yang mau membantu Ridho. Ada yang tertawa karena perilaku Ridho. Ada yang diam karena takut akan hal yang tidak diinginkan. Tegar yang merupakan sahabatnya menyuruh Ridho untuk duduk. Ridho tetap keukeuh ingin sekali bukunya.
Teriakan Ridho tak hanya terdengar diruangannya saja. Siswa diruang kelas sebelah ada yang melirik kelas Ridho karena penasaran akan situasi kelas tersebut. Guru yang sedang mengajarkan di kelas sebelah, datang kekelas Ridho ingin mencari tahu apa yang telah terjadi dikelas tersebut.
“Ada apa nih, Yan..”tanya Pak Sugeng.
“Pak. Ridho sudah mulai mencari masalah lagi. Lihat saja apa yang ditulis dibuku ini..”kata bu Yanti.
“Pak! Itu buku Harian saya. Itu menyangkut Privasi saya. Tolong kembalikan pak..” kata Ridho.
“Maksud kamu apa sih, Dho?” tanya Pak Sugeng.
“Pak, apa telah saya alami, saya tulis dibuku itu. Yang baik dan buruk akan saya tulis dengan menggunakan bahasa saya” jawab Ridho.
“Kamu sama saja sudah meremehkan saya. Tidak mau mendengarkan saya! Saya galak untuk semua. Bukan untuk kamu saja..Dasar murid GILA!” kata bu Yanti.
“Pak tolong pak kembalikan buku saya. Tolong jangan dibaca karena menyangkut rahasia saya.. Kalau bapak tidak mau mengembalikan buku saya. Saya lebih baik keluar dari sekolah ini daripada saya sekolah dengan kondisi yang tertekan!” kata Ridho.
“Keluar saja kamu. Sekolah ini tidak membutuhkan siswa seperti kamu!” kata bu Yanti.
“Bu.. Lebih baik ibu diam saja. Dia anak yang pintar. Ingat dia masuk kesekolah ini dengan nilai UN rata-rata 9,00. Ia bukan siswa bodoh, Bu.. Ibu sama saja mengeluarkan dia tanpa seijin kepala sekolah dan kesiswaan.” Kata Pak Sugeng.
“Biarkan saja, Pak.. Ia selalu membuat ulah. Buat apa dipertahankan..”kata bu Yanti.
Perbincangan pak Sugeng dengan bu Yanti berjalan begitu lama. Ridho langsung bersiap-siap membereskan buku dimeja dan kemudian dimasukkan ke tas untuk dibawa pulang. Ia keluar dengan tatapan penuh dengan sedih dan kesal. Ia sama sekali tidak menatap bu Yanti dan pak Sugeng.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar